Waktu kecil, saya ikut mama ke dusun sagu. Saya ingat bunyi pangkur memukul empulur sagu, air yang mengalir membawa pati, dan tawa para mama yang bekerja sambil bercerita. Di situlah saya belajar bahwa hutan adalah dapur kami.
Lebih dari pangan
Sagu memberi makan keluarga tanpa perlu membuka hutan. Pohon sagu tumbuh berumpun dan beregenerasi, sehingga bila dipanen dengan aturan adat, dusun sagu bisa memberi makan dari generasi ke generasi.
Di dusun sagu pula anak-anak belajar mengenal tanaman obat, burung, dan batas-batas wilayah adat dari para tetua.
Kekhawatiran kami
Ketika dusun sagu berubah fungsi, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah pengetahuan, hubungan antarmarga, dan kemandirian pangan. Kampung yang dulu tak pernah kekurangan makanan bisa menjadi bergantung pada beras yang didatangkan dari jauh.
Bagi kami, menjaga hutan sama dengan menjaga mama. Ia yang memberi kami makan.
Harapan
Saya berharap pengakuan wilayah dan hutan adat dapat dipercepat, dan pangan lokal seperti sagu mendapat tempat terhormat di meja makan Indonesia. Anak muda Papua juga perlu didukung untuk mengolah sagu menjadi produk bernilai tanpa merusak dusunnya.



