Pagi masih berkabut ketika sepatu bot kami terbenam hingga betis di tanah hitam yang lunak. Tanah ini bukan tanah biasa: ia tersusun dari sisa tumbuhan yang tertimbun ribuan tahun dalam kondisi tergenang. Itulah gambut, ekosistem yang menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar — selama ia tetap basah.

Masalahnya, selama puluhan tahun banyak kanal digali untuk mengeringkan gambut demi akses dan budidaya. Begitu air surut, gambut mengering, menyusut, dan menjadi bahan bakar yang mudah tersulut. Api di lahan gambut juga sulit dipadamkan karena bisa menjalar di bawah permukaan.

Kayu, karung, dan gotong royong

Di sebuah desa di tepi sungai, kelompok warga membangun sekat kanal: dinding sederhana dari papan kayu, tiang, dan karung berisi tanah yang dipasang melintang kanal. Tujuannya satu, menahan air agar muka air tanah gambut kembali naik.

“Dulu kalau kemarau, sumur kami kering dan asap datang tiap tahun. Sekarang air bertahan lebih lama,” kata salah seorang anggota kelompok yang ikut memasang sekat sejak awal.

Restorasi gambut bukan pekerjaan sekali jadi. Sekat yang jebol harus diperbaiki, tinggi muka air harus dipantau, dan warga harus mendapat manfaat ekonomi agar mau terus menjaga.

Memantau dengan alat sederhana

Warga kini rutin mencatat tinggi muka air dari pipa pantau yang ditanam di beberapa titik. Data sederhana itu sangat berharga: ia menunjukkan kapan gambut mulai rawan, sehingga patroli bisa ditingkatkan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Restorasi juga dibarengi penanaman kembali jenis-jenis asli rawa gambut dan pengembangan usaha yang tidak menuntut pengeringan, seperti budidaya ikan dan madu kelulut. Di sinilah ilmu pengetahuan dan kearifan warga bertemu.

Pelajaran yang bisa dibawa pulang

Gambut yang basah adalah gambut yang aman. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi untuk mewujudkannya diperlukan kerja panjang: tata kelola air lintas desa, dukungan pendanaan yang konsisten, dan kepercayaan bahwa warga adalah penjaga terbaik bentang alamnya sendiri.